DERAPWAKTU.COM, PELAIHARI – Kalangan warga di Kabupaten Tanah Laut (Tala), Kalimantan Selatan, sangat antusias kterhadap hadirnya Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Asy-Syuhada Pelaihari.
Kampus Islam pertama di Kabupaten Tanah Laut itu kini telah menerima lebih dari 60 pendaftar. Bahkan salah satunya merupakan seorang dosen bergelar doktor dari Politeknik Negeri Tanah Laut (Politala).
Fenomena tersebut dinilai menjadi sinyal kuat bahwa kehadiran STAI Asy-Syuhada mendapat kepercayaan tidak hanya dari lulusan sekolah menengah, tetapi juga kalangan akademisi.
Ketua STAI Asy-Syuhada Pelaihari, KH Ahmad Syarifuddin Noor, mengatakan jumlah calon mahasiswa masih berpeluang bertambah karena pendaftaran baru akan ditutup pada akhir Juli 2026.
"Alhamdulillah pendaftar sudah lebih dari 60 orang. Insyaallah masih akan bertambah karena pendaftaran masih dibuka hingga akhir Juli. Perkuliahan direncanakan dimulai awal September," ujarnya.
Menurutnya, capaian tersebut melampaui ekspektasi awal mengingat STAI Asy-Syuhada baru memperoleh Surat Keputusan (SK) pendirian dari Kementerian Agama RI beberapa waktu lalu.
Doktor Politala Jadi Mahasiswa Baru
Di antara puluhan pendaftar, nama Dr. Ir. Anton Kuswoyo SSi MT MPt menjadi perhatian tersendiri.
Akademisi Politala yang baru saja menyelesaikan pendidikan doktor di salah satu universitas ternama di Pulau Jawa itu memutuskan kembali duduk di bangku kuliah sebagai mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI).
Anton mengungkapkan, keputusannya bukan untuk mengejar gelar, melainkan memperdalam ilmu agama yang selama ini menjadi kegelisahannya.
"Saya ingin memperdalam ilmu agama, khususnya bidang hukum keluarga, terutama tentang pembagian harta waris," katanya, Jumat (24/7/2026).
Menurut Anton, masih banyak praktik pembagian warisan di masyarakat yang belum sesuai dengan ketentuan syariat Islam.
Dilatakannya, masih ada yang membagi warisan secara sama rata. Bahkan ada yang berdasarkan rasa belas kasihan sehingga ahli waris yang dianggap lebih miskin mendapat bagian lebih besar.
"Padahal Islam sudah mengatur pembagian waris secara jelas. Persoalan ini yang ingin saya teliti dalam skripsi nanti," jelasnya.
Bentuk Dukungan untuk Kampus Kebanggaan Tala
Selain alasan akademik, Anton mengaku sengaja mendaftarkan diri sebagai bentuk dukungan terhadap berdirinya STAI Asy-Syuhada yang dinilainya sebagai tonggak sejarah pendidikan di Tanah Laut.
"Ini kampus Islam kebanggaan masyarakat Tanah Laut. Saya ingin ikut mendukung dengan menjadi mahasiswa nonreguler," ujarnya.
Anton yang juga menjabat Ketua DPD LDII Tanah Laut dan Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Tanah Laut mengatakan, selama ini seluruh pendidikan formalnya, mulai sarjana hingga doktor, berada di bidang eksakta.
Karena itu, ia merasa perlu melengkapi kompetensi akademiknya dengan pendidikan formal di bidang keislaman.
"Sebagai pimpinan organisasi keagamaan, saya ingin memiliki dasar akademik ilmu agama. Selama ini latar belakang pendidikan saya dari S1 hingga S3 adalah ilmu eksakta," tuturnya.
Optimistis Minat Terus Bertambah
KH Ahmad Syarifuddin Noor mengaku bangga karena STAI Asy-Syuhada mendapat kepercayaan dari berbagai kalangan, termasuk akademisi yang telah memiliki karier dan gelar tinggi.
"Kehadiran Dr Anton sebagai mahasiswa menjadi kebanggaan sekaligus motivasi bagi kami. Ini menunjukkan STAI Asy-Syuhada dipercaya sebagai tempat menimba ilmu, tidak hanya oleh lulusan SMA, tetapi juga kalangan profesional," katanya.
Pihaknya optimistis jumlah mahasiswa angkatan pertama akan terus bertambah hingga penutupan pendaftaran.
Dengan dua program studi yang dibuka, yakni Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Hukum Keluarga Islam (HKI), STAI Asy-Syuhada diharapkan menjadi pusat lahirnya sarjana-sarjana Islam yang mampu menjawab berbagai persoalan umat sekaligus memperkuat kualitas sumber daya manusia di Tanah Laut.
(derapwaktu.com/dw1)
Komentar (0)