DERAPWAKTU.COM, PELAIHARI – Misteri hilangnya empat mahasiswi di kawasan wisata Gunung Birah, Desa Kandangan Lama, Kecamatan Panyipatan, Kabupaten Tanah Laut (Tala), tadi malam, menyentak publik di Kalimantan Selatan.
Keempatnya tersesat hingga mencapai kawasan Gunung Pal, sebuah area perbukitan yang berjarak sekitar satu kilometer dari jalur utama Gunung Birah.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Gunung Birah, Haji Rosmani atau yang akrab disapa Haji Eros, mengatakan lokasi ditemukannya para wisatawan itu cukup jauh dari jalur resmi pendakian menuju puncak Gunung Birah.
"Mereka ditemukan di arah Gunung Pal. Itu sudah keluar dari jalur pendakian Gunung Birah dan jaraknya sekitar satu kilometer dari lokasi yang seharusnya mereka tuju," ujar Haji Eros, Senin (22/6/2026).
Menurutnya, empat mahasiswi asal Banjarmasin tersebut awalnya melakukan pendakian seperti biasa melalui jalur yang relatif landai. Namun saat memasuki percabangan jalur, mereka tidak meneruskan perjalanan lurus menuju puncak Gunung Birah.
Sebaliknya, mereka mengambil arah ke kanan yang ternyata mengarah ke kawasan Gunung Pal. Ini merupakan kawasan yang dikenal angker oleh masyarakat sekitar.
Yang membuat mereka tidak menyadari kesalahan itu, kata Haji Eros, karena jalur yang dilalui terasa nyaman dan mudah dilewati.
"Mereka sempat merasa ragu. Tetapi karena jalannya terasa enak, lapang dan nyaman dilalui, mereka mengira masih berada di jalur yang benar sehingga terus berjalan," tuturnya.
Padahal semakin jauh melangkah, mereka justru masuk ke kawasan hutan yang semakin lebat.
Kondisi semakin sulit karena pendakian dilakukan menjelang malam dan para wisatawan hanya mengandalkan penerangan dari telepon genggam.
"Mereka tidak membawa senter. Hanya lampu handphone. Saat hari sudah gelap, mereka mulai bingung menentukan arah," katanya.
Haji Eros mengungkapkan, kawasan Gunung Pal selama ini cukup dikenal oleh warga sekitar karena memiliki karakter hutan yang lebih rapat dibanding jalur wisata Gunung Birah.
Bahkan, di kalangan masyarakat setempat, kawasan tersebut kerap dikaitkan dengan berbagai cerita mistis yang telah lama berkembang.
"Kalau menurut cerita warga terdahulu, Gunung Pal memang dikenal angker. Banyak cerita yang beredar di masyarakat sejak lama," ujarnya.
Ia menduga para wisatawan tersebut sejak awal tidak menyadari bahwa mereka telah keluar dari jalur wisata.
"Mereka merasa melihat jalan yang jelas, padahal sebenarnya kawasan itu hutan belantara. Karena itulah mereka terus masuk semakin jauh," katanya.
Setelah tersesat dan kehabisan tenaga akibat minim membawa bekal makanan serta air minum, para mahasiswi akhirnya meminta bantuan melalui teman mereka di Banjarmasin yang kemudian menghubungi pihak pengelola.
Berbekal titik koordinat yang dibagikan korban, tim Pokdarwis bersama relawan bergerak melakukan pencarian.
Sekitar pukul 01.00 Wita, keempat mahasiswi berhasil ditemukan dalam keadaan selamat. Selanjutnya mereka dievakuasi menuju basecamp Gunung Birah untuk beristirahat.
"Mereka kelelahan karena berjalan cukup jauh dan bekalnya minim. Setelah sampai di basecamp kami beri makan dan minum terlebih dahulu," jelas Haji Eros.
Setelah kondisi fisik membaik, keempat mahasiswi tersebut akhirnya kembali pulang ke Banjarmasin sekitar pukul 03.00 Wita.
Peristiwa itu menjadi pengingat bahwa pendakian Gunung Birah tetap memerlukan persiapan yang matang meskipun tergolong destinasi favorit yang sering dikunjungi wisatawan.
Haji Eros mengimbau para pengunjung agar selalu membawa senter, bekal yang cukup serta tidak memaksakan pendakian ketika hari mulai gelap.
"Jangan hanya mengandalkan lampu handphone. Kalau memperkirakan perjalanan sampai malam, senter wajib dibawa. Itu yang paling penting untuk keselamatan," tegasnya.
(derapwaktu.com/dw1)
Komentar (0)