DERAPWAKTU.COM, PELAIHARI  – Ada pemandangan yang menyentuh di tengah kesibukan prajurit TNI menyelesaikan pembangunan rumah milik Sajimin, warga RT 16 Dusun Banjar Arum, Desa Karang Rejo, Kabupaten Tanah Laut (Tala), Kalimantan Selatan. 

Laki-laki berusia 55 tahun itu tak mampu menyembunyikan rasa harunya. Matanya berkaca-kaca menyaksikan rumah yang selama ini hanya bisa diimpikannya perlahan berdiri lebih kokoh dan layak huni.

Bukan tanpa alasan air mata itu menetes. Sebab, bagi Sajimin, memiliki rumah yang aman dan nyaman selama ini bukan perkara mudah. 

Kondisi ekonomi keluarga membuat keinginan memperbaiki tempat tinggalnya seolah menjadi angan-angan yang sulit dijangkau.

Sebelum tersentuh program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-130 Kodim 1009/Tanah Laut Tahun Anggaran 2026, rumah kayu yang ditempatinya bersama keluarga sudah jauh dari kondisi layak.

Bangunan yang telah berusia puluhan tahun itu mulai dimakan usia. Sejumlah bagian dinding papan mengalami pelapukan, bahkan banyak yang sudah keropos. 

Atapnya pun tak lagi mampu memberikan perlindungan maksimal. Setiap hujan turun, air merembes masuk melalui bagian atap yang bocor.

Di rumah sederhana itulah Sajimin menjalani kehidupan bersama istri, anak, dan menantunya. Empat orang dalam satu keluarga harus bertahan di tengah kondisi hunian yang semakin rapuh.

Sehari-hari, Sajimin bekerja sebagai pekerja harian lepas dengan mengaduh atau merawat sapi milik orang lain. 

Penghasilan yang diperolehnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Untuk memperbaiki rumah secara menyeluruh, apalagi membangun kembali dari awal, jelas bukan perkara ringan.

Bahkan, untuk mencukupi kebutuhan makan sehari-hari saja, ia mengaku masih kesulitan.

"Terima kasih, Pak TNI, sudah membangunkan rumah saya. Sekarang rumah saya jadi bagus. Kalau tidak dibangunkan Bapak TNI, mana mungkin saya bisa memperbaiki rumah saya. Buat makan saja susah," tutur Sajimin dengan penuh haru, Rabu (4/11/2026).

Kalimat sederhana itu seolah menggambarkan betapa besar arti bantuan tersebut bagi kehidupannya.


Dari Rumah Lapuk Menuju Harapan Baru

Sajimin merupakan bagian dari keluarga transmigran asal Jawa yang datang ke kawasan tersebut sekitar 1991–1992. 

Lebih dari tiga dekade menjalani kehidupan di Desa Karang Rejo, rumah kayu yang ditempatinya menjadi saksi perjalanan panjang keluarga itu.

Namun, seiring waktu, kondisi bangunan semakin memprihatinkan. Keterbatasan ekonomi membuat perbaikan rumah harus terus tertunda.

Harapan baru datang melalui program TMMD ke-130 Kodim 1009/Tanah Laut yang dipimpin Dansatgas Letkol Inf Adhy Irawan SIP MHI.

Pengerjaan bedah rumah Sajimin mulai dilakukan sejak 16 Oktober 2026. Sejak itu, personel Satgas TMMD bahu-membahu mengerjakan pembangunan hingga rumah tersebut kini hampir rampung.

Perubahan yang terjadi bukan sekadar memperbarui tampilan bangunan. Rumah yang sebelumnya kusam, lapuk, dan bocor perlahan berubah menjadi hunian yang lebih kokoh dan layak untuk ditempati.

Bagi keluarga Sajimin, perubahan tersebut tentu memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar bangunan baru. Kini ada harapan untuk menjalani hari-hari tanpa dihantui kekhawatiran ketika hujan turun.

Kepala Desa Karang Rejo, Pendi Pranata, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada jajaran TNI yang telah memberikan bantuan kepada warganya tersebut.

"Atas nama pemerintah desa dan mewakili Bapak Sajimin, saya sangat berterima kasih kepada Bapak-Bapak TNI yang sudah membangunkan rumah beliau menjadi lebih bagus dan layak huni," ungkap Pendi.


Bukan Sekadar Membangun Rumah

Kisah Sajimin menjadi salah satu potret manfaat kehadiran TMMD di tengah masyarakat. 

Program tersebut tidak hanya menyasar pembangunan fisik desa, tetapi juga menyentuh kebutuhan dasar warga yang selama ini memiliki keterbatasan untuk memperbaiki kualitas hidupnya.

Di Desa Karang Rejo, yang memiliki sekitar 2.800 penduduk atau 900 kepala keluarga, dengan 18 RT dan dua dusun, kegiatan TMMD ke-130 mencakup sejumlah sasaran pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.

Selain bedah rumah, kegiatan fisik meliputi peningkatan jalan antar desa, perbaikan jembatan, pembuatan pos keamanan lingkungan (poskamling), rehabilitasi musala, serta pembangunan sumur bor.

Program tersebut juga dilengkapi kegiatan nonfisik, di antaranya penyuluhan kepada masyarakat, sunatan massal, dan pasar murah.

Beragam kegiatan itu memperlihatkan bahwa pembangunan desa tidak semata-mata diukur dari bertambahnya infrastruktur, tetapi juga dari sejauh mana manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Di antara berbagai sasaran TMMD tersebut, rumah Sajimin menyimpan cerita tersendiri.

Bagi para prajurit, membangun rumah merupakan bagian dari tugas pengabdian. Namun bagi seorang Sajimin, rumah itu adalah sesuatu yang selama bertahun-tahun sulit diwujudkannya sendiri.

Kini, rumah yang dahulu bocor saat hujan dan dinding papannya mulai keropos perlahan menjadi tempat berteduh yang lebih layak bagi keluarganya.

Air mata Sajimin menjadi gambaran sederhana bahwa pengabdian tidak selalu harus diukur dengan megahnya bangunan atau panjangnya jalan yang dibangun.

Terkadang, keberhasilan sebuah program justru terlihat dari seorang warga yang akhirnya bisa tersenyum lega karena memiliki tempat tinggal yang lebih baik.

Di rumah baru itu, Sajimin bukan hanya mendapatkan bangunan yang lebih layak. Ia mendapatkan kembali harapan yang selama ini nyaris tak berani dibayangkannya.

Puluhan tahun tinggal di rumah kayu yang bocor dan lapuk, buruh harian lepas berusia 55 tahun itu akhirnya bisa memiliki hunian layak melalui program TMMD ke-130 Kodim 1009/Tanah Laut.

(derapwaktu.com/banyulangit)