DERAPWAKTU.COM, BANJARBARU – Upaya menekan angka pengangguran di Kalimantan Selatan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Tak hanya pemerintah, tapi juga kepolisian dan dunia usaha. Kolaborasi tersebut salah satunya diwujudkan melalui Program Polisi Peduli Pengangguran (POLIRAN) Polda Kalsel Tahun 2026 yang diharapkan mampu membuka akses kerja lebih luas bagi masyarakat.

Berdasar catatan media ini, Selasa (3/11/2026), Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan menyambut positif program tersebut karena sejalan dengan upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan memperluas kesempatan kerja bagi tenaga kerja lokal.

Apresiasi khusus juga disampaikan Gubernur Kalsel H Muhidin melalui Sekretaris Daerah Provinsi Kalsel, M Syarifuddin, saat menghadiri kegiatan POLIRAN di Balai Latihan Kerja (BLK) Provinsi Kalsel, Banjarbaru, Kamis 29 Oktober 2026 lalu.

Meneruskan pesan Gubernur, M Syarifuddin menyampaikan bahwa persoalan pengangguran merupakan tantangan pembangunan yang membutuhkan penanganan bersama. 

Bertambahnya jumlah angkatan kerja setiap tahun harus diimbangi dengan peningkatan kompetensi dan ketersediaan lapangan pekerjaan.

“Pengurangan angka pengangguran merupakan salah satu sasaran utama pembangunan nasional maupun daerah. Karena itu, diperlukan sinergi dan kolaborasi seluruh pihak untuk bersama-sama mengatasi persoalan ini,” ungkap Gubernur.

Menurutnya, keterlibatan Polda Kalsel melalui POLIRAN menjadi langkah positif dalam memperkuat program ketenagakerjaan yang selama ini dijalankan Pemprov Kalsel. Terlebih, program tersebut tidak hanya mendorong peningkatan keterampilan, tetapi juga membuka peluang bagi peserta pelatihan untuk memasuki dunia kerja.

Pemprov Kalsel pun terus mendorong peningkatan kualitas tenaga kerja melalui berbagai program, di antaranya penyelenggaraan bursa kerja atau job fair, pelatihan keterampilan, serta peningkatan kompetensi melalui BLK.

Gubernur berharap sinergi Pemprov Kalsel dan Polda Kalsel dapat terus diperkuat, termasuk dengan melibatkan dunia usaha agar keterampilan yang diperoleh peserta pelatihan benar-benar sesuai dengan kebutuhan industri.

Sementara itu, Kapolda Kalsel Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan menekankan pentingnya kesungguhan peserta dalam mengikuti pelatihan. Menurutnya, kemampuan teknis harus diimbangi dengan kedisiplinan, tanggung jawab, motivasi, dan etos kerja yang baik.

Kapolda juga mendorong agar program magang tidak berhenti sebatas memberikan pengalaman kerja, tetapi dapat menjadi pintu masuk bagi peserta untuk memperoleh pekerjaan tetap.

Ia berharap perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Kalimantan Selatan turut berperan aktif dalam menyerap tenaga kerja lokal, khususnya peserta yang telah mengikuti pelatihan dan memiliki kompetensi sesuai kebutuhan perusahaan.

Untuk mendukung hal tersebut, Polda Kalsel berencana berkoordinasi dengan pihak terkait guna mengundang perusahaan-perusahaan yang berpotensi membutuhkan tenaga kerja. Dengan demikian, kebutuhan industri dapat dipertemukan dengan ketersediaan tenaga kerja yang telah dipersiapkan melalui pelatihan.

“Harapannya, setelah selesai magang, adik-adik ini tidak perlu lagi keluar mencari pekerjaan atau melamar ke berbagai tempat. Jika mereka menunjukkan kemampuan dan kinerja yang baik, perusahaan bisa mempertimbangkan untuk langsung merekrut mereka,” ujar Kapolda.

Program POLIRAN Tahun 2026 diikuti sebanyak 96 peserta pelatihan. Mereka mendapatkan pembekalan keterampilan sebagai persiapan memasuki dunia kerja sekaligus meningkatkan daya saing di tengah kebutuhan industri yang terus berkembang.

Dalam kesempatan tersebut, Sekdaprov Kalsel M. Syarifuddin bersama Kapolda Kalsel Irjen Pol. Rosyanto Yudha Hermawan juga meninjau sejumlah fasilitas pelatihan di BLK Kalsel.

Rombongan mengunjungi gedung teknologi manufaktur yang menjadi tempat peserta mengasah keterampilan pengelasan menggunakan metode Submerged Arc Welding 4G. 

Selanjutnya, peninjauan dilakukan ke gedung otomotif serta gedung elektronika dan listrik yang dilengkapi fasilitas praktik untuk menunjang pembelajaran.

Berbagai fasilitas tersebut menjadi sarana bagi peserta untuk memperoleh keterampilan teknis di bidang manufaktur, otomotif, dan elektronika sesuai kebutuhan dunia industri.

Melalui kolaborasi pemerintah daerah, kepolisian, lembaga pelatihan, dan dunia usaha, program ini diharapkan tidak hanya menghasilkan tenaga kerja yang terampil, tetapi juga mampu memperbesar peluang penyerapan tenaga kerja lokal di Kalimantan Selatan.

Dengan demikian, peningkatan kompetensi yang diperoleh peserta dapat berlanjut menjadi kesempatan kerja nyata dan memberikan kontribusi terhadap upaya penurunan angka pengangguran di Banua. (AOL)